“camera!!”
“rolling!!!”
“and action!!!”
“rolling!!!”
“and action!!!”
“Selamat siang pemirsa bertemu lagi dengan saya bintang dan rekan
saya Sigit dalam breaking news on the spot. Pemirsa kota jakarta telah
dihebohkan dengan ditemukannya mayat istri seorang pengusaha muda yang
sukses di jakarta Bapak Elang Hasbi Firmansyah. Istri beliau Ibu Yolanda
telah ditemukan tewas pagi tadi dengan keadaan tubuh penuh dengan
sayatan. Dan saya akan segera menuju ke TKP untuk membuktikannya.”
Namaku Yolanda umurku 16 aku bersahabat dengan tetanggaku Riska dari
kecil. Aku dan dia selalu bersama mulai dari sekolah, bermain, belajar,
dan lainnya kami selalu berdua. Dan kami meyakini persahabatan kami ini
untuk selamanya dan tak akan terpisahkan. Dan seiring berjalannya waktu
mulai tumbuhlah keraguan antara kami. Terutama pada Riska, dia seperti
mulai menghawatirkan apa yang akan terjadi pada kami saat kami berpisah
nanti. Saling melupakankah atau selalu mengingat satu sama lain walau
ada jarak antara kami nantinya. Dan akhirnya kami pun membicarakan
tentang hal itu, hal yang mengganjal di hati kami masing-masing.
“Yol, kamu yakin persahabatan kita ini akan abadi?” tanyanya.
“ya tentu, kenapa tidak? Kita kan hampir melakukan semua hal bersama, apa ada yang akan memisahkan kita?”
“ya mungkin, kita tak akan tahu kehidupan kita di kemudian hari atau waktu kita dewasa nanti mungkin kita akan berpisah karena hal yang penting!”
“kalau berpisah karena jarak kita kan bisa berkomunikasi lewat sosmed, sms, telepon atau yang lainnya kita kan generasi yang hidupnya berlimpah dengan teknologi.”
“tatap saja itu masih membuat diriku meragukan persahabatan abadi antara kita.”
“terus apa yang bisa membuat kamu menghilangkan keraguan itu Riska sayang?”
“kita lakukan sebuah sumpah!”
“ya tentu, kenapa tidak? Kita kan hampir melakukan semua hal bersama, apa ada yang akan memisahkan kita?”
“ya mungkin, kita tak akan tahu kehidupan kita di kemudian hari atau waktu kita dewasa nanti mungkin kita akan berpisah karena hal yang penting!”
“kalau berpisah karena jarak kita kan bisa berkomunikasi lewat sosmed, sms, telepon atau yang lainnya kita kan generasi yang hidupnya berlimpah dengan teknologi.”
“tatap saja itu masih membuat diriku meragukan persahabatan abadi antara kita.”
“terus apa yang bisa membuat kamu menghilangkan keraguan itu Riska sayang?”
“kita lakukan sebuah sumpah!”
“apa sumpah? Sumpah apa?”
“ya sumpah darah, seperti urban legend yang kita baca kemarin aku juga ingin menjadi sahabat sejatimu seperti Sarah dan Alice meski maut memisahkan mereka namun pada akhirnya mereka bersama di alam yang lain.”
“tapi serem tahu.”
“apa kamu takut?”
“gak siapa yang takut. Ayo kita lakuin. Tapi kapan?”
“nanti malam. Di kamarku. Aku akan siapkan segala keperluaannya dan kamu harus nginap di rumahku. Oke.”
“oke siapa takut.”
“ya sumpah darah, seperti urban legend yang kita baca kemarin aku juga ingin menjadi sahabat sejatimu seperti Sarah dan Alice meski maut memisahkan mereka namun pada akhirnya mereka bersama di alam yang lain.”
“tapi serem tahu.”
“apa kamu takut?”
“gak siapa yang takut. Ayo kita lakuin. Tapi kapan?”
“nanti malam. Di kamarku. Aku akan siapkan segala keperluaannya dan kamu harus nginap di rumahku. Oke.”
“oke siapa takut.”
Tengah malam aku dan Riska memulai ritual dan sumpah darah ya seperti
sumpah sumpah pada umumnya selalu ada hal mistis yang menyelimuti malam
ini. Semua peralatan sudah disediakan olehnya dan kami pun memulainya
dengan ritual mandi kembang 7 rupa. “OMG, aku gak nyangka nih anak bisa
semistis ini. Kayak udah dipersiapin sejak dulu aja. Peralatannya
lengkap banget lagi gila nih anak.” Runtukku dalam hati.
“Yolanda, sekarang kita harus mandi kembang ini! terus cuci muka pake
air kembang yang di baskom itu 7 basuhan ya! terus habis itu makan 7
kelopak bunga mawar dan 7 melati muda lalu minum kopi itu dan yang
terakhir duduk bersila di tengah lingkaran lilin. Kamu ngerti kan Yol?”
“iya aku ngerti.” Sahutku setengah ngeri.
“iya aku ngerti.” Sahutku setengah ngeri.
Saat semua selesai kami pun melaksanakan sumpah darah tersebut dengan
menuliskan sumpah kami di sebuah kertas bahwa kami ini adalah “Best
Friends Forever.” lalu menusuk jari telunjuk dengan jarum yang telah
dibakar dan menulis kami masing-masing di kertas itu dengan darah kami.
Dan sumpah darah pun telah kami lakukan. Tahun-tahun telah berlalu, kami
tumbuh dewasa dan sudah lulus dari SMA kami. Aku pergi ke perguruan
tinggi di kota jakarta, sementara Riska mendapat beasiswa ke yogyakarta.
Kami masih terus berhubungan, setidaknya sekali seminggu. Ketika aku
telah menyelesaikan gelar S1, aku mendapat pekerjaan yang baik dan
memutuskan untuk menikah dengan pengusaha terkenal di sana. Aku dan
suamiku membeli sebuah rumah dan menetap di sana.
Beberapa tahun kemudian, aku memiliki sepasang bayi kembar yang
tampan dan cantik. Aku begitu sibuk dengan keluargaku, dan jarang
menemukan waktu untuk menanyakan kabar dari Riska. Dan kami pun
kehilangan kontak. Aku sempat merasa khawatir dengan keadaannya di sana
karena saat aku mencoba meneleponnya dia tak pernah mengangkatnya.
Sampai pada suatu malam aku bermimpi bahwa aku berada di tempat yang
gelap di sana aku sedang diikat dan mulutku dibungkam oleh segerombolan
orang berbadan besar. Mereka membawa suntikan dan menusukkannya ke
lenganku dan itu membuatku tak bisa bergerak sama sekali lalu mereka pun
memperk*saku beramai-ramai saat aku sudah terkulai lemas salah satu
dari mereka mengambil pisau dan menusukkannya ke perutku beberapa kali.
Tiba-tiba aku terbangun keringat dingin bercucuran ke seluruh
tubuhku, rasa takut yang berlebihan menghantuiku. Belum lama aku mencoba
menenangkan diri ku dengar suara ketukan pintu jam dinding kamarnya
menunjukkan pukul 12 tengah malam Elang pun masih tidur pulas di
sebelahku. Ketukan pintu yang semakin keras yang membuatku semakin
jengkel. “siapa sih gak tahu sopan santun apa bertamu tengah malam
begini?” kataku. Aku pun beranjak dari tempat tidur dan pergi membukakan
pintu tersebut. Betapa kagetnya diriku melihat Riska berada di depanku
dengan wajah pucat, baju berantakan, dan penuh dengan noda darah.
“Ya Allah, Riska! Apa yang terjadi?” Seruku. Riska hanya menatapku dengan tatapan kosong.
“Ayo masuklah, di luar hujan,” kataku. “Apa kau terluka?” Riska tidak beranjak dari tempatnya berada.
“Masuklah, Riska ku mohon!?” Pintaku yang meresa iba dengan penampilannya saat ini.
“Lama tidak bertemu, Yolanda!” Ucap Riska dengan suara pelan.
“Ayo masuklah, di luar hujan,” kataku. “Apa kau terluka?” Riska tidak beranjak dari tempatnya berada.
“Masuklah, Riska ku mohon!?” Pintaku yang meresa iba dengan penampilannya saat ini.
“Lama tidak bertemu, Yolanda!” Ucap Riska dengan suara pelan.
“Aku datang untuk memenuhi janjiku. Aku datang untuk memberitahumu, aku telah meninggal.”
Aku terdiam mendengar ucapannya barusan. Riska mengangkat tangannya dan menunjukku dengan jari telunjuknya. Jarinya meneteskan darah. “Hidup telah memisahkan kita,” dia melanjutkan, “tapi kita akan bersama-sama dalam kematian. Aku akan menunggumu…” mendengar kata-katanya membuat tubuhku lemas dan aku pun pingsan di depan pintu rumahku.
Aku terdiam mendengar ucapannya barusan. Riska mengangkat tangannya dan menunjukku dengan jari telunjuknya. Jarinya meneteskan darah. “Hidup telah memisahkan kita,” dia melanjutkan, “tapi kita akan bersama-sama dalam kematian. Aku akan menunggumu…” mendengar kata-katanya membuat tubuhku lemas dan aku pun pingsan di depan pintu rumahku.
Keesokkan paginya, saat aku terbangun aku telah berada di samping
suamiku. Aku bertanya pada diriku sendiri apa yang ku alami semalam
hanya mimpi tapi itu begitu nyata ku rasakan. Saat sarapan, aku melihat
tayangan tv yang memberitakan bahwa pukul 12 tengah malam tadi telah
ditemukan mayat istri seorang pengusaha ternama di yogya telah meninggal
terbunuh setelah diculik selama beberapa hari istri pengusaha tersebut
bernama Riska. Betapa kaget dan syoknya diriku melihat berita itu rak ku
sangka yang ku alami semalam adalah kenyataan yang dialami sahabatku
sendiri.
Sejak saat itu kehidupanku jadi berantakan aku melupakan semua
kegiatan yang harusnya ku lakukan. Setiap malam aku akan mimpi yang sama
seperti malam saat Riska meninggal dan aku akan mendengar ketukan pintu
lalu membukanya dan menemukan Riska yang berwajah pucat dengan telunjuk
penuh darah dan selalu mengatakan. “Aku akan menunggumu, Yol.” dan
paginya aku merasa jari telunjukku sangat sakit sekali dan ada noda
darah di sana.
Kondisiku semakin lama semakin buruk aku tak tahan dengan semua ini
dan aku pun memutuskan bunuh diri. Ku sayat lenganku, kakiku, bahkan
wajahku aku merasakan ngilu di seluruh tubuhku darah segar ke luar dari
seluruh sayatanku di penglihatanku yang kabur aku melihat bayangan Riska
mengajakku dan aku merasa jiwaku telah terbang meninggalkan ragaku. Aku
hidup di alam kematian bersama sahabatku. Aku begini karena sumpah
darahku padanya yang memberikan aku ikatan hidup maupun mati.
—
“Pemirsa breaking news on the spot sekarang saya sedang berada di
kamar tempat ditemukannya mayat nyonya Yolanda. Menurut penyelidikan
polisi beliau mati bunuh diri dengan menyayat seluruh tubuhnya hingga
beliau kehabisan darah dan di samping mayat beliau telah ditemukan
barang bukti berupa secarik kertas yang berisikan surat singkat untuk
sang suami. Seperti ini isi suratnya. ‘I’m going to leave you forever.
Because I had been picked up by a friend and I had to keep blood oath I
ever did before. Please take care of our children. And tell it to
everyone, so that no one dared try to do a blood oath like me because
they would be tragic. And I’m proof. Goodbye.”
Surat itu menyebutkan sumpah darah sepengetahuan saya sumpah darah
adalah sebuah urband legend lama yang berasal di luar negeri dan yang
mengakibatkan ikatan batin sehidup semati dari yang melakukan sumpah
itu. Jadi jika salah satu pelaku sumpah tersebut mati maka yang lain
juga akan mati menysul kemudian hari. Maka para pemirsa jangan pernah
mencoba hal mistis tersebut. Baiklah itulah breaking news dari saya.
Saya Bintang dan Sigit di lokasi kejadian mengucapkan selamat siang dan
samapai jumpa..”
“okay cut!”
“bagus Bin!”
“ya jelas, siapa dulu dong Bintang!!”
“eh, ngomong-ngomong apa beneran ada tuh sumpah darah?”
“katanya sih bener, tapi gak tahu sih kan itu cuman materi dari bos. Mana gue tahu, lo kepo ya?”
“jelas dong Sigit gitu, mau coba nggak?”
“mau, mau. Gue juga penasaran! Masa sampai setragis itu.”
“oke nanti malam di kosan lo ya!”
“oke gue tunggu ya.”
“okey bos.”
“bagus Bin!”
“ya jelas, siapa dulu dong Bintang!!”
“eh, ngomong-ngomong apa beneran ada tuh sumpah darah?”
“katanya sih bener, tapi gak tahu sih kan itu cuman materi dari bos. Mana gue tahu, lo kepo ya?”
“jelas dong Sigit gitu, mau coba nggak?”
“mau, mau. Gue juga penasaran! Masa sampai setragis itu.”
“oke nanti malam di kosan lo ya!”
“oke gue tunggu ya.”
“okey bos.”
Kita akan selalu bersama dalam suka duka berbagi semua tak
terpisahkan hanya kau yang ada di hatiku you’re my best friends forever.
Cerpen Karangan: Yolanda Maharani Putri Arafad
Facebook: Yolanda Maharani
Facebook: Yolanda Maharani
Sumber : http://cerpenmu.com
Nama saya Yolanda umur 16 tahun hobi menulis dan membaca.
Nama saya Yolanda umur 16 tahun hobi menulis dan membaca.

0 comments: