Langkah kakinya yang berirama dengan sepatu andalannya, menaiki anak
tangga menuju lantai 2. Gaya khasnya yang cuek dengan jaket hitam,
celana jeans, tas kecil, gelang hitam di tangan kanannya dan berkupluk.
Memasuki ruang kelas dengan santai walau ia tahu ia sudah terlambat,
itulah Tedy si sulung dari 3 bersaudara. Mahasiswa ilmu kedokteran ini
merasa terperangkap dalam jurusan tersebut. Kalau saja bukan karena
keinginan ayahnya yang ingin melihat anaknya menjadi seorang dokter,
mungkin Tedy sudah memilih kuliah di jurusan Broadcasting. Pria kurus
berkulit sawo matang ini lebih menyukai dunia fotografi dan film
daripada menjadi dokter demi menyelamatkan orang lain. Setiap mata
kuliah yang dia hadiri tak pernah diperhatikan secara sungguh-sungguh.
“Jiwa gue bukan sebagai dokter tapi seorang broadcaster handal.” Kalimat tersebut yang selalu ada di pikiran Tedy.
Berbagai cara ia lakukan untuk bisa pindah jurusan bahkan sampai
memohon izin berulang kali kepada ayahnya namun tetap saja tidak
diberikan. Hobinya dalam dunia foto yang sering mengabadikan berbagai
momen dan objek yang ia temui membuatnya tertarik untuk mengikuti sebuah
kompetisi fotografi yang diikuti mahasiswa dari berbagai Universitas.
Keikutsertaannya tersebut tentu tanpa sepengetahuan ayahnya. Keasyikkan
Tedy dalam dunia fotografinya ini membuat nilainya di berbagai mata
kuliah menjadi sangat mengecewakan dan menimbulkan kecurigaan di pikiran
ayahnya.
Saat pengumuman pemenang kompetisi fotografi diumumkan di website
resmi penyelenggara, nama Tedy berada dalam 5 besar kontestan yang akan
diadu kembali dengan mahasiswa dari Universitas lain di Singapore.
Betapa bahagianya Tedy melihat pengumuman tersebut namun seketika ia
bingung bagaimana caranya meminta izin ayahnya untuk bisa pergi ke
Singapore. Tiga hari sudah Tedy memikirkan masalah ini tapi masih saja
belum ada solusinya. Pukul 23.30 Tedy pulang dari acara nongkrong bareng
teman-teman kampusnya. Tampak tubuh tegap berkulit putih, berkacamata,
berkumis tipis mengenakan kaos oblong dan sarung tengah berada di ruang
tamu menanti Tedy.
“Dari mana kamu?” tanya ayah.
“Abis maen Yah.”
“Bukan habis foto-foto?” tanya ayah lagi dengan nada ketus.
“Engga kok Yah, udah ah aku cape mau tidur.”
“Gimana rasanya menang? Kapan berangkatnya?” ayah mulai kesal.
“Menang apaan sih Yah, udah ah.” Tedy meninggalkan ayah yang masih duduk di sofa.
“Abis maen Yah.”
“Bukan habis foto-foto?” tanya ayah lagi dengan nada ketus.
“Engga kok Yah, udah ah aku cape mau tidur.”
“Gimana rasanya menang? Kapan berangkatnya?” ayah mulai kesal.
“Menang apaan sih Yah, udah ah.” Tedy meninggalkan ayah yang masih duduk di sofa.
“Jawab dulu pertanyaan Ayah!” menarik tangan Tedy.
“Apaan sih Yah, gak jelas banget.” Jawabnya santai.
“Terus gimana praktek kamu minggu depan, udah dapet lokasinya? Di mana? Perlu bantuan Ayah gak?”
“Aku gak butuh apa-apa, lagian juga aku gak tahu mau praktek di mana.”
“Gimana kalau di Singapore aja sekalian kamu hadiri kompetisi gak penting itu.” Sindir Ayah.
“Kenapa sih Ayah gak pernah mau dengerin keinginan aku, Ayah gak pernah mau tahu tentang aku.” Tedy gerah dengan sikapnya Ayahnya itu. “Ayah udah turutin semua kemauan kamu, fasilitas yang Ayah kasih gak pernah kurang kan? Ayah selalu ngertiin kamu.”
“Apaan sih Yah, gak jelas banget.” Jawabnya santai.
“Terus gimana praktek kamu minggu depan, udah dapet lokasinya? Di mana? Perlu bantuan Ayah gak?”
“Aku gak butuh apa-apa, lagian juga aku gak tahu mau praktek di mana.”
“Gimana kalau di Singapore aja sekalian kamu hadiri kompetisi gak penting itu.” Sindir Ayah.
“Kenapa sih Ayah gak pernah mau dengerin keinginan aku, Ayah gak pernah mau tahu tentang aku.” Tedy gerah dengan sikapnya Ayahnya itu. “Ayah udah turutin semua kemauan kamu, fasilitas yang Ayah kasih gak pernah kurang kan? Ayah selalu ngertiin kamu.”
“Ngertiin apa sih Yah, kalau semua yang aku lakuin saat ini adalah
keinginan Ayah semata. Aku gak pernah mau jadi dokter dan aku gak ada
sedikit pun niat jadi dokter. Jiwa aku di fotografi. Yah, itu duniaku
tapi Ayah merampasnya dan memaksaku untuk jadi orang lain, aku bagai
raga tanpa nyawa. Coba aja Ayah sedikit dengerin keinginan aku, sadari
bakat yang aku miliki Yah. Aku cuma butuh izin dan support dari Ayah
untuk bakatku ini, aku yakin aku bisa bikin Ayah bangga. Aku mohon Yah.”
Ungkap Tedy. Seketika ayahnya terdiam dan meninggalkan Tedy sendirian.
Tedy kesal, bingung juga sedih.
Keesokkan harinya Tedy pun menceritakan kejadian malam itu kepada
ibunya. Ia ingin mendapat izin dan dukungan dari orang terdekatnya untuk
bisa melanjutkan kompetisi fotografi tersebut. Sang Ibu dengan senyum
simpulnya memeluk Tedy sambil berkata. “Aku meridhoimu Nak, pergilah
kejar impianmu. Biar Ayahmu Ibu yang urus di sini.”
Berbekal restu dari sang Ibu, Tedy akhirnya memutuskan untuk
berangkat ke Singapore. Namun saat sudah berada di bandara, Tedy
mendapati telepon dari adiknya bahwa ayah mereka masuk ke rumah sakit.
Tedy pun bingung harus bagaimana, 20 menit lagi pesawatnya take-off
sedangkan ayahnya tengah dilarikan ke rumah sakit. Pilihan yang berat
untuk memilih impiannya atau orang yang sudah menghalangi mimpinya.
Lima menit sebelum take-off Tedy berlari meninggalkan pesawat dan
menuju rumah sakit. Sesampainya di sana dokter mengatakan kanker yang
diderita ayahnya telah memasuki stadium akhir dan kondisinya sangat
mengkhawatirkan. Di sanalah Tedy tersadar mengapa ayahnya sangat
menginginkan dirinya menjadi seorang dokter karena berbagai dokter
spesialis kanker yang sudah memeriksanya tak menemukan harapan atas
kesembuhannya.
Tedy kesal dan marah kenapa selama ini dia berprasangka buruk kepada
ayahnya yang tak pernah mengizinkannya menikmati kesukaannya. Dia juga
sedih kenapa ayahnya tak pernah menceritakan perihal penyakit yang
dideritanya hingga separah ini. Ibunya pun menghampiri dan bercerita.
“Jangan salahkan Ayahmu yang tak pernah mengizinkanmu pindah jurusan
Nak, Ayah selalu yakin dan berkata kepada dokter yang mengurusnya,
‘kelak yang akan menyelamatkanku dari penyakit ini adalah anak
kebanggaanku, pahlawan kecilku.’ Dan dia memilihmu sebagai pahlawan
kecilnya.” cerita ibu.
“Tahu tidak, saat ia tahu kau menang kompetisi itu, dia gembira
sekali sampai lompat-lompat segala, dia tahu kalau kau mampu mewujudkan
mimpimu Nak, tapi dia tak akan mampu melihatmu sukses jika ia tak
sembuh. Dan itu alasan kenapa Ayahmu ingin kau jadi dokter agar kelak
yang menyelamatkannya adalah anak kebanggaannya sendiri, yaitu kamu.”
lanjutnya. Dalam benak Tedy saat ini adalah menjadi seorang dokter hebat
demi menyelamatkan ayahnya. “Maafkan aku Ayah, aku janji aku akan
sembuhkan Ayah bagaimanapun caranya. Masalah kompetisi itu aku bisa ikut
lagi lain waktu.” Sambil memeluk ayahnya yang terbaring lemah.
Note: Orangtua selalu tahu yang terbaik untuk anaknya, selalu ada alasan yang baik di balik sikap keras orangtua.
Cerpen Karangan: Siti Nurhasanah
Blog: earthough.tumblr.com
Blog: earthough.tumblr.com
sumber :http://cerpenmu.com/

0 comments: