Saat ini tepat sabtu malam yang ke-96, seharusnya kau sudah tiba
dengan membawa kue bertulisakan, “happy 2nd anniversary..” Dan kita
nyalakan lilin-lilin kecil itu, kemudian kita tiup dengan napas lembut.
Atau kau datang hanya membawa senyum manismu, aku rasa itu sangat cukup.
Tapi sampai saat ini kau belum juga nampak, padahal aku sudah hampir
satu jam duduk di bangku hijau paling pojok dekat jendela itu, di kedai
es krim tempat biasa kita mengumbar tawa dan meleburkan rindu.
“Ah, mungkin dia masih di perjalanan. Maklumlah Jogja tiap tahunnya
makin macet, apalagi malam minggu kayak gini, banyak orang yang ke luar
untuk sekedar jalan-jalan, pacaran, atau karena banyaknya bus-bus
pariwisata yang memenuhi jalanan. Atau jangan-jangan si Komo tidak hanya
lewat di Jakarta, kini ia sampai di Jogja..” ucapku dalam hati sembari
menghibur diri. Tak terasa waktu terus berlalu, seakan ia tak mau
menunggu. Dalam dasar hatiku sebenarnya masih bertanya-tanya, “kenapa
dia belum juga datang? Lupakah dengan hari spesial kita?” aku mulai
cemas. Karena yang ku tahu, selama kurang lebih 4 tahun aku mengenalnya,
dia sosok yang on time, disiplin, tak sama dengan kebanyakan orang
Indonesia. Malah, biasanya dia yang menungguku, bukan aku yang
menunggunya.
Sengaja aku tak menghubunginya, karena selama ini kita selalu ingat
hari dimana kita memegang erat komitmen itu, dan kita pun selalu
merayakan momen itu, di waktu ini, juga tempat ini, tempat pertama kali
ku nyatakan cinta, dan kau pun membalasnya dengan wajah yang tak kalah
bahagia. Aku masih ingat jelas hari itu, aku bagai seorang jaka tarub
yang dapat bersatu dengan dewi nawang wulan, sang bidadari kahyangan.
“Mas, jadi pesen apa?” tanya pelayan sambil menyodorkan selembar daftar menu.
“Eh, Biasa Mas, pesen fruits ice creamnya satu, sama maxi-maxi ice creamnya satu Mas.” ujarku dengan sedikit panik, karena harus terbangun dari lamunan.
Tak lama, pelayan itu datang dengan membawa 2 ice cream kesukaanku dan tentunya kesukaannya. “Silakan Mas.”
“terima kasih Mbak.” jawabku dengan penuh senyum. Tapi kau belum juga datang. Ku harap sebelum es ini mencair kau sudah duduk di hadapanku dan mengusir gelisah yang ku pendam.
“Eh, Biasa Mas, pesen fruits ice creamnya satu, sama maxi-maxi ice creamnya satu Mas.” ujarku dengan sedikit panik, karena harus terbangun dari lamunan.
Tak lama, pelayan itu datang dengan membawa 2 ice cream kesukaanku dan tentunya kesukaannya. “Silakan Mas.”
“terima kasih Mbak.” jawabku dengan penuh senyum. Tapi kau belum juga datang. Ku harap sebelum es ini mencair kau sudah duduk di hadapanku dan mengusir gelisah yang ku pendam.
Dengan terpaksa, ku nikmati ice cream itu bersama para pelanggan yang
hampir semua berpasangan, diiringi lagu-lagu romantis dan berhiaskan
bermacam-macam lampu kelap-kelip. Satu, dua sendok terasa lebih dingin
dari biasanya, manisnya pun tak lebih manis dari biasanya. Aku tak tahu.
Kalsium dalam ice cream tak mampu menguatkanku, lemak jenuh yang
terkandung pun seakan juga membuatku makin jenuh. Tak biasanya kau
seperti ini. Benar-benar sudah berubah. Setiap kali ku lihat wanita
dengan hijab warna-warni lewat, aku berharap itu kau. Tapi tidak, itu
bukan kau.
—
Aku kembali tersadar, ini bukan lagi hari spesial buatmu. Kisah kita
pun sudah kau anggap selesai. Tanpa kau memberiku kesempatan untuk
berubah. Mungkin aku pernah salah. Ya salah karena aku tergoda dengan
wanita lain yang Tuhan turunkan sebagai ujian. Memang kesibukan yang
membuatku semakin sulit menggenggam cinta yang kau percayakan, Dulu.
Tapi akhirnya aku pun menyesali itu, karena wanita itu ternyata tak
lebih baik darimu. Wanita itu hanya menginginkan sesuatu, sehingga dia
selalu datang dan menggodaku, hingga membuatku menikmati kesenangan
sementara dan berpaling darimu. Seperti politikus yang awalnya memohon,
berjanji tapi setelah tercapai kepentingannya ia khianati.
Berbeda dengan ketulusanmu, yang pada akhirnya aku tersadar akan
perjuangan di balik perjuanganmu. Ku ingat, saat ulang tahunku kau
sengaja datang ke Kostku dengan semua yang kau persiapkan jauh-jauh
hari, padahal aku tahu, orangtuamu tak akan mengizinkan kau ke luar
selarut itu. Apalagi sampai sepagi itu. Aku tahu kebohonganmu demi aku.
Banyak lagi yang pernah kau lakukan untukku, hanya saja aku telah buta.
Seperti aku baru tersadar akan indahnya tanah kelahiranku setelah aku
pergi meninggalkannya, aku selalu ingin kembali ke sana.
“Sampai saat ini, kau tahu mengapa aku masih di tempat ini? Terlalu
indahkah senyummu untuk ku lupakan? Terlalu tangguhkah cintaku untuk ku
robohkan? Atau terlalu dalamkah rasa itu sehingga aku tak mampu bangkit
lagi?” Aku bertanya-tanya dalam hati.
Aku tahu, mengeluh pada waktu hanyalah jaring-jaring yang ditebarkan
ke langit. Sia-sia. Aku pun tahu, agamaku melarang manusia menolak
takdir atau mempertanyakan keadilan Tuhan. Tapi aku tak tahu, mengapa
aku selalu menerima ketika bayangmu menyusup ke dalam pikiran. Hanya
sebuah kalimat, “Seandainya.. Dan Seandainya..” Ya, bagiku itulah bagian
dari nikmat imajinasi, karena dengan itu aku bisa memporak-porandakan
alur waktu sesuka hatiku. Meskipun tak nyata dan tak akan pernah menjadi
nyata.
Hingga detik ini, aku masih tak ingin kehilangan masa lalu, walaupun
waktu tak akan berputar ulang. Tapi bayangan itu enggan meninggalkanku,
seperti saat aku berjalan di terik siang. Kau mengikutiku ke mana pun
aku melangkah, sebelum aku menemukan keteduhan atau mendung datang, kau
akan selalu begitu. Dalam hamparan anganku, kau masih datang dengan
dinginnya sikapmu, membuatku semakin gerah untuk kembali bersamamu. Tapi
kau hanyalah fatamorgana. Kau yang sekarang hanya biasan cahaya, kau
hanyalah bayang yang terpatri dalam imaji, sedang ragamu telah hilang,
pantas saja duniaku gersang.
“Penyesalan memang selalu datang belakangan.” begitu pepatah yang
tiba-tiba terbesit dalam pikiran. Biarlah gelap penyesalan
menyelimutiku, mungkin waktu sedang menghakimiku dan memberiku
pelajaran. Aku hanya membiarkan waktu membawakan selembar takdirku, tapi
dalam sebaris anganku, semoga aku kembali memelukmu. Tak terasa malam
semakin larut, tempat ini pun enggan menemaniku menerjang kisahku.
“Akankah kau masih mengingatku, mengingat kisah kita, waktu ini dan
tempat ini?” aku masih memendam beribu tanya.
Cerpen Karangan: M. Ubayyu Rikza
Blog: Bayrikza.Blogspot.Com
Facebook: Bayu (Muhammad Ubayyu Rikza)
Blog: Bayrikza.Blogspot.Com
Facebook: Bayu (Muhammad Ubayyu Rikza)

0 comments: