Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di Makassar. Saat ini aku sedang menikmati liburan semester. Aku tinggal d...

Perasaan Yang Telah Hilang

Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di Makassar. Saat ini aku sedang menikmati liburan semester. Aku tinggal di Lombok, liburan ini sekaligus menjadi sebuah bagian dari perjalanan hidupku yang menyedihkan sekaligus mengecewakan dimana perasaanku untuk seseorang harus hilang dikarenakan kebodohanku. Cerita ini berawal saat aku memasuki bangku SMA, awalnya kami tidak saling mengenal. Aku adalah seorang pendatang. Ya benar, sejak SMA aku memutuskan untuk kos bersama dengan sahabatku yang sama-sama berasal dari daerah. Aku mengetahui tentangnya berawal dari salah satu social media dengan hanya melihat profilnya aku sudah tertarik dan menambahkannya menjadi teman di social media. Aku tertarik karena memiliki kampung halaman yang sama.

Hari pertama masuk sekolah, dimana kami harus mengikuti ospek dan merupakan pembagian kelas untuk siswa baru ternyata aku sekelas dengannya dan dia menjadi ketua kelas awalnya hanya tertarik karena kami berasal dari daerah yang sama tapi lama-kelamaan rasa itu mulai tumbuh. Tidak, kami tidak berpacaran. Pada waktu itu dia telah memiliki seorang kekasih, ya harapan untuk bisa bersama hanya merupakan harapan untukku. Dia sudah berpacaran sejak sekolah menengah pertama. Tetapi, selang berapa lama tidak tahu karena apa dia dikabarkan putus. Tidak mau munafik aku sangat senang karena masih ada harapan tetapi itu hanya ada di khayalanku karena ini hanya cinta sepihak. Aku bukanlah seorang wanita yang terlalu bisa mengekspresikan perasaanku kepada seseorang aku hanyalah sorang anak pendiam.
Selama kelas X percakapan di antara kami bisa dihitung hanya beberapa kali, pernah dia mengajakku berbicara karena dia melihat tempat lahirku yang kebetulan satu daerah dengannya, padahal aku telah mengetahui jauh sebelum dia. Saat akan memasuki kelas XI, ada pemisahan kelas karena penjurusan kami memilih jurusan yang sama dan entah keberuntungan atau doaku terkabul kami satu kelas kembali. Banyak peningkatan di antara kami, rasa itu semakin besar karena kami menjadi bahan olokan teman-teman itu berawal saat dia duduk di belakangku untuk sementara pada waktu itu aku marah dengannya disebabkan oleh apa aku lupa.
Dia menulis sesuatu di kertas dan memberikannya padaku ternyata dia meminta maaf karena telah membuatku marah. Percakapan itu semakin panjang dan waktu istirahat pun datang. Kami menyelesaikan percakapan itu, ternyata banyak teman-teman yang melihat gerak-gerik kami dan banyak yang ingin melihat isi kertas itu mau tidak mau aksi saling tarik menarik di antara aku dan temanku tak terelakkan ternyata mereka dapat sebagian dari kertas itu. Mulai dari itu kami menjadi bahan olokan. Pada saat itu juga lagi boomingnya film “Habibi dan Ainun” yang jika diplesetkan hampir mirip dengan nama kami. Jujur perasaanku padanya semakin hari semakin besar tetapi itu kandas karena dia memiliki pacar lagi dan itu adalah teman satu perlombaan dengannya. Perasaanku kembali hancur dan mencoba kembali untuk melupakannya.
Pada saat kelas XII, aku sekelas lagi dengannya. Ya, awalnya kelas kami akan dipisah tetapi semua kelas tidak ada yang setuju. Dia sebagai seorang ketua osis mengarahkan kami untuk membuat surat petisi untuk tidak menyetujui pemisahan kelas dan ternyata disetujui. Dan begitulah aku bisa sekelas lagi dengannya bersama dengan mantannya yang sejak SMP itu. Kami bisa dikatakan selalu bareng saat ada jadwal piket. Aku bisa dikatakan rajin piket pulang sekolah saat yang laki-laki jarang piket aku selalu ngotot agar mereka mau piket dan akhirnya mereka mau membantu juga.
Pernah suatu waktu dia mengajakku berbicara dia ingin memberikan sesuatu kepadaku. Pada waktu itu aku sangat penasaran apa yang akan diberikannya tetapi cerita ini tidak seindah perkiraanku dikarenakan oleh sesuatu dan lain hal dia tidak jadi memberikannya entah dikarenakan aku masih takut untuk mengenal laki-laki padahal bisa dibilang kesempatan di depan mata. Dan pernah saat dia duduk sendiri di depan kelas dia ingin mengajakku mengobrol tetapi aku masih takut dan akhirnya menolak dan langsung masuk ke kelas. Salahku selalu menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Pada saat itu, aku menjadi bahan olokan dengan teman sekelasku yang lain. Ini berawal saat kami saling mengejek satu sama lain dan berlaku layaknya orang pacaran yang saling mengadu satu sama lain. Pernah suatu waktu kami pergi liburan dengan teman sekelas, awalnya aku nebeng dengan temanku tetapi dikarenakan temanku yang lain tidak ingin nebeng bersama dia, temanku memintaku untuk tukar dan di sinalah aku berboncengan dengannya. Selama di perjalanan kami banyak mengobrol dan pada saat pulang dia menanyakan bagaimana perasaanku dengan orang yang pada saat itu dekat denganku dan aku menjawab tidak tahu dan responnya mengagetkanku, “kalau memang sudah tahu kasi tahu ya.” Entah perasaanku mulai tumbuh lagi dengannya.
Ya, aku memang orang tidak peka bukan karena apa hanya saja sebagai wanita aku tidak mau ke-GR-an. Mungkin hanya perasaanku saja dia pernah menembakku tapi karena tidak mendengar terlalu jelas karena angin dia mengatakan tidak ada dan aku tidak terlalu memikirkannya mungkin hanya perasaanku saja. Saat hari kelulusan sangat ingin berfoto berdua dengannya karena tidak ada keberanian itu hanya menjadi angan-anganku saja. Setelah lulus aku fokus untuk memilih universitas banyak tes yang ku ikuti dan aku selalu gagal dan akhirnya aku diterima di salah satu sekolah kesehatan tetapi selang satu tahun aku mengikuti tes lagi dan diterima di universitas yang saat ini aku geluti.
Ceritaku dengannya tidak berakhir sampai di sini, pada saat libur puasa tahun lalu aku pulang kampung ke daerah kelahiranku dan dia ternyata pulang juga. Karena terlalu bosan tidak ke mana-mana aku sengaja menulis PM ingin pergi ke salah satu tempat wisata yang dekat dengan kampungnya dia pun mengajakku “chat”. Setelah janjian, kami pun pergi ke salah satu tempat wisata yang dekat dengan kampungku. Ya, dia menjemputku ke rumah kakekku. Senang? Pasti, deg-degan? Yaiyalah. Selama di tempat wisata aku banyak bercerita tentang kehidupanku yang pada saat itu aku telah mempunyai seorang pacar, aku tidak terlalu lama berpacaran dengan pacarku saat diterima di salah satu universitas negeri di Makassar aku memutuskan untuk mengakhirinya karena aku tidak bisa melupakan dia.
Selang beberapa bulan tidak ada komunikasi di antara kami, inilah salah satu klimaks dari bagian kehidupanku. Liburanku akan berakhir seminggu lagi karena sangat ingin ke pantai aku mengajaknya menemaniku. Sempat ada rasa menyesal mengajaknya tapi ada manfaatnya juga. Ya, aku mengetahui suatu kabar yang sangat buruk untukku dia telah mempunyai seseorang bukan hanya sekedar pacar tapi seorang calon istri.
Dia juga mengakui pernah mempunyai rasa untukku tapi aku terlambat dikarenakan kebodohanku yang tidak terlalu peka karena penyesalan selalu datang terlambat andai saja aku punya keberanian lebih tapi tidak ada gunanya penyesalan. Aku memang telah melewatkan banyak kesempatan yang ada. Ya, ini adalah karma untukku. Dia memang sudah bekerja saat ini, karena pendidikannya hanya satu tahun di salah satu sekolah kedinasan. Inilah akhir dari kisah cintaku untuknya, semoga kau berbahagia dengannya dan aku turut berbahagia untukmu. Terima kasih telah menjadi salah satu bagian dari kehidupanku.
“Jika akhirnya kamu tidak disatukan dengan orang yang namanya sering kamu sebut dalam doamu. Mungkin kamu akan disatukan dengan orang yang sering menyebut namamu dalam doanya..” Jodoh, hidup, mati, rezeki, dan kesehatan tidak ada yang tahu, semua hanya Allah yang tahu. Jadi, saatnya kembalikan kepada Allah dan jangan sampai cintamu untuk makhluk-Nya lebih besar daripada cintamu untuk sang Pencipta.
Cerpen Karangan: Nurul Aini
Facebook: Nurul Aini Hamzah

0 comments: